SentraClix

Sisi Rentan “One Man One Vote”

Sunday, April 13, 2014 Diposkan oleh Arul

“One Man One Vote” adalah bagian dari demokrasi yang dianut saat ini dan merupakan copy paste dari sistem demokrasi negara-negara barat yang sudah memiliki tingkat pendidikan & kemakmuran yang tinggi.
Siapapun yang akan jadi pemimpin, gubernur, kepala daerah, atau bupati, bahkan presiden, tidak ditentukan atas pertimbangan, pemikiran & referensi orang-orang yang alim (berilmu) yg memiliki intelektual tinggi, pengetahuan yg luas, namun sistem ini sangat mungkin ‘melahirkan’ pemimpin yang dipilih oleh 'rakyat yang tertipu', orang-orang bodoh & jahil bahkan orang tak waras sekalipun. Karena semua warga negara (yg sudah berhak memilih) mempunyai hak & nilai yang sama, yaitu ‘satu suara’ untuk setiap ‘satu orang’. Suara seorang profesor sama nilainya dengan suara seorang bromocorah, suara orang alim sama nilainya dengan suara seorang pendosa, dan lain sebagainya.

“One Man One Vote” membuka peluang bagi siapa saja yang berkepentingan terhadap kekuasaan, yang akan berusaha memperoleh suara sebanyak-banyaknya dengan cara apapun agar kekuasaan dapat diraih. Salah satu senjata yang paling efektif adalah menggunakan media massa. Media massa menjadi wadah penting untuk merekayasa popularitas demi elektabilitas.

Kemiskinan negeri ini menunjukkan angka yang signifikan untuk dijadikan sumber daya ‘mendulang suara’. Mengapa? karena kemiskinan adalah wilayah yang mudah dibeli dengan janji, gampang termakan oleh iklan. Kemiskinan tercipta oleh tingkat pendidikan yang rendah dan pendidikan yang rendah sangat mempengaruhi cara berpikir & telaah sehingga rentan ‘dibawa kemana-mana’. Proses pembodohan akan terus berlangsung agar kualitas rendah tetap terjaga, hanya dengan memberi mimpi-mimpi bak cerita telenovela. Kemiskinan menjadi indikator kualitas sumber daya manusia yang lemah tak berdaya namun ladang suara calon penguasa, kemiskinan dipelihara.

Bergantungnya masyarakat pada eksistensi media massa & media sosial hingga menempatkannya sebagai jendela dunia informasi dalam banyak hal membuat sebagian masyarakat dengan mudah dijadikan sasaran empuk dalam upaya ‘pencucian otak’ dan ‘pencitraan’ untuk seorang calon penguasa yang bisa dibuat nampak menjadi mulia.

Bahkan kabarnya perkembangan tehnologi dimanfaatkan pula sebagai kendaraan untuk menggiring opini dengan membentuk ”Tim Cyber & IT” demi pemenangan tokoh tertentu. Tak haram memang dalam aturan permainan politik yang memanfaatkan media massa & tehnologi ini tetapi ongkos yang tinggi hanya bisa dipenuhi oleh pemodal besar, yaitu pengusaha & cukong-cukong yang berambisi melebihi kandidat calon pemimpin yang dibeli.

Belum lagi ditambah oleh pemilih pemula & angka tambahan ‘suara massa mengambang’ yang juga potensial untuk dibeli & ditukar dengan janji-janji, semua itu adalah lumbung-lumbung suara (=angka).

Terpilihnya seseorang untuk menjadi pemimpin disebabkan oleh keberhasilan merekayasa dan membuat pencitraan melalui media-media mainstream yang berpihak terhadap seseorang yang digadang-gadang atau diinginkankan menjadi penguasa. Tentunya ini memerlukan biaya yang tidak sedikit sebagai ongkos politiknya. Pemodal besar/pengusaha/cukong-cukong mempunyai peran penting sebagai sponsor bagi siapapun yang ingin menjadi /dijadikan pemimpin. Imbasnya, kepentingan diri sendiri, golongan maupun sponsornya adalah harga yang harus dibayar oleh pemimpin yang terpilih nantinya.

Dengan demikian pada akhirnya demokrasi seperti ini tidaklah menjamin kekuasaan dipegang oleh orang-orang yang berjiwa negarawan, bahkan jauh dari keinginan memakmurkan & mensejahterakan rakyatnya. Demokrasi ini benar-benar melahirkan penguasa, bukan pemimpin. Kantong-kantong kemiskinan, kebodohan jadi bagian obyek penting dalam permainan bahkan boleh jadi ada pemetaan untuk sengaja diciptakan.

Demokrasi seperti ini menempatkan;  Suara terbanyak adalah kemenangan….suara terbanyak adalah kebenaran… bahkan dengan berani ada yang mengatakan bahwa suara terbanyak adalah suara Tuhan….. hingga pada akhirnya “kualitas ditikam kuantitas”

RINDU PADA RINDU

RINDU

malamku terjaga hembusan angin lirih perlahan

daun-daun berbisik senandung kesunyian

gelisahku menua sebab adamu tak bersama

memaksaku menelan rindu yang smakin terasa.


pada selisih satu jam,

apakah malammu juga demikian?

(February 11, 2012)





KAPAN

kapan?
kata ini, batu besar dipunggungku

lahir dari mulut-mulut kecil tak berdosa

terus kupikul sampai saat tawa kita dalam satu ruang.


kapan?

tidak hari ini atau besok

usiaku seumur jagung berdiri

baru bernafas lalu berkemas

pulang kerumah kita yg hilang


kapan?

tanyamu disetiap obrolan.

kenakan sabarmu, ajaklah Tuhan temukan jawaban pasti...

(February 11, 2012)




AKU JUGA RINDU

dari sekotak benda yang kugenggam
lirihmu terdengar meski berjarak lautan

diantara tawamu yang sedikit kau paksakan

(kutahu) nafasmu berharap sentuhan


Lelakiku,

aku tak pernah berkata bahwa do'a saja sudah cukup

sebab kau berhak menuntut keinginan

agar sejatinya tak merubah dalam memaknai kata 'satu'


Lelakiku,

sesungguhnya, aku juga rindu

(December 18, 2011)




KAMU TETAP LAKI-LAKI

jika kerinduan berubah menjadi air mata
tak berarti hilang laki-lakimu

menangislah nak....menangis secukupnya

sesudah itu kamu tetap menjadi laki-laki
 
(December 18, 2011)

bencana

mengingatkan bagaimana cara kita akan dijemput kematian,
bagaimana ditinggal orang-orang yang kita cintai,
dan bagaimana mengelola airmata
yang dapat memaknai kepedulian lebih dalam.
 
tak perlu ciptakan lagu baru,
suarakan saja puisi-puisi lama
dan bacakan doa-doa yang sudah diwahyukan
 
sebab semua adalah pengulangan,
semua adalah pengulangan...

NOKTAH AKSI KEPEDULIAN

Setiapkali negeri ini dilanda bencana, baik itu kebakaran, banjir, gempa bumi, dan lain sebagainya maka bersamaan dengan itupula spontanitas kepedulian masyarakat tumbuh untuk segera turut serta membantu mereka yang sedang dirundung musibah. Stasiun-stasiun TV, radio dan beberapa lembaga, membuka rekening ‘kepedulian’ dalam rangka menghimpun dana bantuan yang dibutuhkan di daerah bencana.

Tak kecuali beberapa mahasiswa yang dengan bangga menggunakan jaket almamaternya nampak terlihat dibeberapa perempatan lampu merah ibukota, membawa kotak-kotak kardus yang ditulisi ‘sumbangan bencana’, mengharap sumbangsih pengguna jalan raya.
Tentunya ini sikap spontanitas & kepedulian yang perlu kita acungi jempol, namun cukup disayangkan mengapa kaum terdidik ini tidak menempuh cara-cara yang lebih elegan & terhormat. Dengan alasan membantu untuk bencana, lalu kita bersama-sama ‘memaklumi’ aktifitas tersebut meskipun melanggar ketertiban di jalan raya.

Disisi lain penjual asongan harus ‘berkucing-kucingan ria’ diperempatan lampu merah dengan para petugas Kamtib. Ini terjadi hampir setiap hari karena untuk urusan perut, mereka tidak mungkin menunda walaupun hanya untuk satu hari.

Bagi kaum pengasong, perempatan jalan atau lampu merah menjadi area yang cukup potensial karena pengguna jalan adalah ‘calon’ penghasil kocek mereka. Mereka yang bermobil ataupun berkendaraan lain adalah kaum ‘berduit’ yang menjadi sasaran mudah untuk mendulang rupiah.

Lalu apakah inipula yang ‘menginspirasi & mengilhami’ kaum mahasiswa tadi?

Dengan pendidikan yang lebih baik dari para pengasong, seharusnya para mahasiswa bisa mempunyai cara-cara yang lebih baik dalam membantu mereka yang sedang dlanda bencana. Sikap kepedulian yang tinggi ini harus terus didukung tanpa harus ‘menabrak’ ketertiban & peraturan yang ada.

7,6 Skala Righter Itu Telah Merenggut 2 Anak & Istriku

Tepat pukul 17.16 WIB, aku merasakan goncangan begitu dasyat di kantorku. Meja kerja, komputer, lampu-lampu serta semua yang ada diruang kerjaku tiba-tiba saja menjadi berantakan. Getarannya begitu besar sehingga meruntuhkan plafon-flafon, lampu-lampu, serta menjatuhkan meja & lemari kerja diruangan itu. Lalu sekonyong-konyong aku lari tunggang langgang menyelamatkan diri keluar dari kantor. Beberapa teman kerjaku juga melakukan hal yang sama. Tetapi ternyata tidak semua bisa berhasil keluar, bunyi gemuruh sangat besar telah menghentikan teriakan & langkah mereka. Aku diam terpaku, ‘Allahu akbar’ jeritku dalam hati.

Gedung tempat aku bekerja sehari-hari kini rata dengan tanah. Bukan cuma itu, didalamnya masih tersisa beberapa teman kerjaku. Entah bagaimana nasib mereka kini. Asap debu yang mengepul membuat mataku begitu perih dan nafasku menjadi sesak. Lagi-lagi aku tak dapat berkata-kata, aku hanya bisa beristighfar dalam hati, ‘astagfirullah hal adzim..…’ berkali-kali tanpa henti.

Kali ini aku benar-benar menangis, air mataku tak terasa begitu deras seperti baru tersadar, teman-temanku yang masih tertinggal didalam gedung itu pasti sudah remuk. Tak ada sela atau ruang yang memungkinkan mereka yang tertinggal didalam sana bisa bertahan apalagi selamat. Gedung ini benar-benar rata dengan tanah.

‘Ya Allah…’ tiba-tiba seperti baru tersadar kembali aku teringat anak-anak dan istriku di rumah. Kemudian aku mengambil motorku yang sudah terguling di parkiran depan kantorku untuk segera pulang. Segera aku mengambil kunci yang biasa aku simpan disaku celanaku. Lalu terus bergegas pulang ke rumah tanpa memperdulikan teriakan & tangisan disekelilingku.

Disepanjang jalan wajah anak-anak & istriku terus membayangi, ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah. Tangisan anak-anak & ibu-ibu di pinggir-pinggir jalan terus mengiringi disetiap deru motorku dan semakin mengingatkan aku pada anak-anak & istriku. Bunyi klakson dari kendaraan yang hiruk-pikuk juga semakin membuat semuanya menjadi panik.

Setengah jam diperjalanan, tinggal beberapa meter lagi untuk sampai ke rumahku. Tak ada goncangan lagi. Jelas terlihat beberapa rumah tetanggaku juga telah runtuh. Mereka semua berada di tepi jalan sambil bertakbir & menangis. Beberapa dari mereka memegangi kepalanya yang berdarah, bahkan seorang ibu teriak-teriak histeris menangisi anaknya yang terbujur kaku dihadapannya.

Tinggal sepuluh meter lagi. Tiba-tiba tetangga sebelahku memanggilku, “Pak…, pak…” sambil berlari, dia terus memelukku erat. Matanya berkaca-kaca. “sabar pak….sabar pak…..” teriaknya. Aku melempar motorku yang masih menyala, lantas dengan gemetar aku berlari menuju rumahku.

‘Masya allah….’ teriakku kecil.

“dimana anak-anak dan istriku…?!”

“sabar pak….sabar pak….” lagi-lagi kalimat itu yang terdengar.

Aku semakin lemas, gemetarku semakin menjadi. Semakin sulit untuk melangkah, aku setengah terduduk lemas tanpa daya kugunakan dengkulku sebagai penopangnya lalu memandangi rumahku yang porak-poranda.

Perlahan sambil menggandengku, Pak Ahmad tetanggaku itu membawa aku memasuki rumahku yang sudah tak berbentuk.

“Ya Allah……!” aku melihat anak pertamaku terbujur kaku di depan TV disela bongkahan tembok rumahku yang ambruk. Darah dari kepalanya masih mengalir segar terlihat. Pak Ahmad lagi-lagi memelukku erat, “sabar pak…sabar pak…”bisiknya lagi. Mataku tiba-tiba menjadi gelap, aku coba untuk terus melangkah lalu kehilangan kata-kata.

Pak Ahmad menuntunku ke ruang kamar, masih memegangku sekuat-kuatnya. Kemudian mengajakku berjongkok mengintip dari sela reruntuhan tembok kamarku yang roboh.

“astaghfirullah hal adzim…..” kini aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, istri & anakku yang paling kecil berpelukan kaku tanpa nyawa.

“inna lillahi wa inna ilaihi rojiun….” ucap Pak Ahmad

“inna lillahi wa inna ilaihi rojiun….” bisikku gemetar mengikutinya

Aku tak mampu lagi untuk bangun tapi Pak Ahmad menganggakatku kuat, lalu menggandengku lagi menjauh keluar rumah menuju tepi jalan. Sambil memintaku bersabar dan selanjutnya menunggu tim evakuasi yang segera akan datang. Samar-samar masih terdengar olehku hiruk-pikuk dan suara tangisan-tangisan disekelilingku. Namun, semakin lama semakin tak terdengar.

Aku hanya merenungi diriku yang baru saja di tinggal orang-orang yang aku sayangi.

Tersimpan sebuah penyesalan jika teringat kejadian tadi pagi. Aku telah memarahi istriku dengan keras hanya karena terlambat menyiapkan sarapan pagiku. Mestinya itu tak kulakukan, seharusnya aku menyadari bahwa dia begitu lelah setelah semalaman tidak pulas tidurnya sebab menemani si kecil yang panas badannya. Setiap hari ia begitu capek & lelah karena harus mengurus anak-anakku, mencuci pakaian, memasak dan semua hal yang ia kerjakan untuk aku dan anakku.

Dua hari yang lalu juga aku telah memarahi anakku yang pertama. Ia baru saja masuk sekolah dasar, tapi belakangan ia menjadi rewel. Dia hanya minta dibelikan sebuah mainan ‘tamia’ seperti punya Irwan teman sekelasnya. Kalau saja aku berhenti merokok hanya dalam waktu dua hari saja pasti mainan itu sudah terbeli, dan dia anakku itu tidak perlu merengek-rengek terus sepanjang hari.

Juga, sudah beberapa kali aku menunda-nunda janjiku untuk sekadar mengajak anak-anak & istriku bertamasya ke sebuah taman wisata dalam kota. Kalau saja itu terjadi, tentunya mereka begitu senang dan gembira. Setidaknya bagi istriku, tentu hal itu dapat menghilangkan kepenatannya yang setiap hari harus mengurus anak-anak & rumah. Anak-anakku, pasti berlari-lari senang bermain disebuah taman yang teduh. Kemudian kami bersama-sama menikmati makanan yang kami bawa.

Tapi, penyesalanku kini semua sudah tidak ada artinya, mereka sudah tiada, pergi meninggalkanku. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa menangis dan berdo’a.

“Ya, Allah…..ampuni aku, maafkan atas kesewenang-wenanganku terhadap mereka…….atas semua penghilangan hak mereka…… dan atas segala kesalahan-kesalahanku…..kepada mereka…..”


“Yah….ayah…..! bangun….!”, suara itu mengagetkan aku. Itu suara istriku. Aku tersadar. O, ya itu benar-benar suara istriku

“mimpi apa sih…kok nangis-nangis segala…?” sambungnya.

Aku langsung memeluknya seraya aku meminta maaf atas kejadian tadi pagi.

“astagfirullah hal adziim…, aku mimpi…” teriakku pelan

Aku melihat jam dinding masih tetap berada di tembok yang masih kokoh berdiri dalam ruangan, menunjukkan pukul 2 lewat 35 menit. TV masih menyala terus menyiarkan Breaking News tentang kejadian gempa sore tadi di kota Padang, Sumatera Barat. Malam ini mereka tidak tidur, ketakutan & trauma masih menyelimutinya, beberapa dari mereka masih berjuang menyelamatkan diri ditengah-tengah hujan mencari keluarganya yang hilang. Sementara disini, di Jakarta orang-orang tertidur lelap, akupun demikian hanya bisa menyaksikan penderitaan saudara-saudaraku disana melalui berita di TV.

Korban sudah mencapai ratusan orang sementara ratusan lainnya masih belum diketemukan.

Aku menengok anakku yang tertidur pulas tepat disampingku. Dengkurannya yang halus semakin terdengar. ‘Besok akan aku belikan mainan itu untukmu ya nak…?’ bisikku dalam hati sambil kucium keningnya.

“si kecil dimana…?” tanyaku dengan suara sedikit parau kepada istriku yang sedari tadi tersenyum-senyum melihat tingkahku.

“di kamar, sedang tidur pulas dan panas badannya sudah menurun…” jawabnya. Lalu aku beranjak ke kamar untuk meyakinku kalau dia memang benar-benar pulas, ia terlihat begitu lelap, kemudian tak lupa pula aku cium keningnya.

“Tidur lagi Yah…..besokkan kerja…? Jangan lupa matikan TV-nya ya…?” sambil berkata kepadaku, istriku melanjutkan tidurnya disamping anakku yang paling kecil.

Aku beranjak ke ruang depan sambil meneruskan melihat breaking news tadi, selang beberapa saat mataku terasa berat sebab rasa kantuk telah menyerangku lagi. Aku matikan TV lantas tidur lagi.

Award untuk Anda

Tuesday, May 05, 2009 Diposkan oleh Arul

Award ini sudah lama diberikan kepada saya.
Terimakasih kepada blog Coretan Dinding Kamar, maaf yach.... baru ngerjain tugasnya.

Sebagai konsekuensinya saya harus meneruskan lagi membagikan award ini kebeberapa blogger, yaitu;
1. blog Fanda
2. blog Fitri
3. blog 1000jalan
4. blog Iqbal Sandira
5. blog Ajeng
6. blog Kun, Sang Waktu
7. blog Orang Tua Super

received this award from David Funk, who is one of the kindest and enthusiastic blogger I've met on-line.
He is also a good friend of mine. I recommend checking his site out if you haven't yet, and he will gladly return the favor.
Thanks again David for the passing on this award and I really do appreciate it.

Uber (synonym to Super) Amazing Blog Award is a blog award given to sites who:

* inspires you
* makes you smile and laugh
* or maybe gives amazing information
* a great read
* has an amazing design
* and any other reasons you can think of that makes them
* uber amazing

The rules of this award are:

* Copy the badge and put the logo on your blog sidebar or post.
* Nominate at least 5 blogs (can be more) that for you are Uber Amazing!
* Let them know that they have received this Uber Amazing award by commenting on their blog.
* Share the love and link to this this post and to the person you received your award from.
* Come back and comment here so that your link could be added to the master list of awardees.


Selamat yach....and jangan lupa tugas berikutnya....



Pay It Forward

Mohon maaf kepada zhind (blog: hal-hal menarik dalam hidup) yang telah mengapresiasi blog ini dengan melibatkan saya mengerjakan PR untuk membagikan "Pay It Forward" kepada beberapa blogger, namun baru sekarang saya sempat mengerjakannya.

Begitu mendapatkan tugas ini sebenarnya saya ingin segera langsung mengerjakannya tetapi karena kesibukan, jadi saya harus menunda tugas yang diberikan oleh teman-teman tersebut.

Sesungguhnya saya sangat respect & mendukung 'ide cemerlang' dari blogger Fanda yang terinspirasi dari sebuah film (lihat: disini) untuk menyebarkan "Pay It Forward" kepada para blogger yang tentunya akan mempunyai dampak yang baik.

Permintaan maaf ini juga perlu saya sampaikan kepada blog "Coretan Dinding Kamar" yang sudah lama memberi saya 'award' tetapi belum sempat saya kerjakan tugasnya, saya janji
untuk postingan berikutnya khusus untuk mengerjakan tugas award tersebut.


Apa itu Pay It Forward?

Setelah anda menerima kebaikan/pertolongan dari seseorang, maka bukannya anda membalas kebaikan orang tersebut, melainkan anda harus mencari 3 orang lagi yang bisa anda tolong. Jika orang yang anda tolong bertanya mengapa anda melakukan itu atau berterima kasih, jawablah bahwa dia tak perlu berterima kasih karena anda hanyalah Pay It Forward. Berarti orang yang anda tolong akan mencari juga 3 orang lain yang harus ia tolong. Demikian seterusnya, sehingga Pay It Forward menjadi sebuah gerakan yang menginspirasi semakin banyak orang untuk berbuat baik demi orang lain, meski untuk itu kita harus bersusah payah dan berjuang. Mungkin dengan demikian, kita bisa ambil bagian dalam mengubah dunia di sekitar kita agar menjadi lebih baik.

Cukup bingung juga rupanya untuk memilih & memberikan PR ini karena umumnya blog yang saya kenal bagus-bagus.
Nah... sesuai dengan aturan yang telah ditentukan akhirnya saya harus memilih 3 (tiga) blogger dengan beberapa alasan, yaitu ;

1. Tia, blog : "angin berbisik"
selain 'ramah', blog ini juga rajin mengupdate postingannya, oleh karena itu blog ini telah berhasil "mempermalukan saya" ketika saya melihat blog sendiri yang jarang mengupdate postingan. Ekspresi spontan dalam postingannya yang singkat namun penuh kejujuran sering saya temui, jadi jelas blog ini telah menginspirasi saya untuk terus banyak belajar.

2. Lela, blog: "Kisahku dalam Ceritaku"
kisah 'mbak Terry' pada sebuah postingan dalam blog ini juga telah memberikan begitu banyak pelajaran bagaimana 'kesetiaan & kesabaran' dibuktikan.

3. Atca, blog:"Griyaunik" dalam postingan: 'Terimakasih Telah Menyentuhku' . Jika kita membaca postingan ini kita pasti akan tersentuh, terlihat bagaimana perasaan penulis ini menggambarkan bahwa sensitifitas terhadap kehidupan dan masalah sosial masih eksist ditengah kita. Selain itu blog ini juga mempunyai banyak penggemar, lihat saja pada setiap postingannya selalu 'diramaikan' oleh tamu yang memberi komentar.

Selamat berjuang.......

Kasih & Cinta

Tuesday, March 24, 2009 Diposkan oleh Arul

Selain mempunyai tamplate yang bagus dan menarik ternyata para bloger juga sangat kreatif untuk meng-update postingan mereka. Sebagai pendatang baru tak ketinggalan saya selalu mengunjungi bloger-bloger senior yang rajin memberikan tips-tips untuk 'dicuri' ilmunya.
Tetapi ketika menengok beberapa blog yang membahas romantika kehidupan, sosial & rumah tangga itupun menyita perhatian saya.
Kasih sayang orang tua kepada anak atau sebaliknya menjadi suguhan yang menyentuh sekaligus menyejukkan.
Betapa cinta dan kasih sayang takkan pernah lepas dari kehidupan kita.

Berikut satu bukti lagi, "Kasih & Cinta" masih menunjukkan eksistensinya dalam sebuah keluarga bahagia melalui gambar yang dikirimkan kepada saya melalui email beberapa saat lalu.

Semoga kita terus belajar banyak dari kehidupan yang kita lihat.......




















Logika sederhana, Atasi Pengangguran

Krisis ekonomi global menyebabkan target penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan terhambat. Tingkat kemiskinan semula ditargetkan 11,5% di awal 2010, diperkirakan meningkat menjadi 13,5%. Jika semula pemerintah menargetkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,4% dari jumlah angkatan kerja, maka dengan adanya krisis target tersebut berubah. "Tapi karena terjadi krisis, tingkat pengangguran terbuka naik menjadi 8,3 sampai 8,9%," ujar Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2009).

Begitu isi berita yang saya baca di sebuah media massa, sungguh suatu khabar yang menyedihkan dan memiris hati kita.
Lalu apa yang bisa kita buat untuk melawan arus krisis yang sudah menglobal dengan segala dampak yang diakibatkannya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab tentunya.

Disisi lain saya membaca perihal peningkatan partisipasi pekerja perempuan dihampir semua lini, entah ini mungkin gambaran tingkat keberhasilan kaum perempuan 'memaknai' kata emansipasi ataukah lapangan kerja sudah tidak 'mempercayai' kaum laki-laki.
Secara kasat mata atmosfir ini jelas terlihat, kaum pekerja perempuan mulai mendominasi lapangan kerja terutama pada sektor-sektor industri (dengan tingkat pendidikan tertentu).
Fenomena ini memberikan kontribusi meningkatnya pengangguran dari kaum laki-laki karena 'jatahnya' diambil kaum perempuan.

Tak soal, pengangguran laki-laki dan perempuan jika mempunyai konsekuensi yang sama, tetapi kenyataannya jelas berbeda akibat dan dampak yang ditimbulkan bagi penganggur kaum laki-laki dan penganggur perempuan. Begitu juga sebaliknya untuk pekerja laki-laki dan pekerja perempuan.

Penganggur laki-laki, lebih mempunyai tekanan psikologis yang lebih besar (dari lingkungan & budaya) yang mengakibatkan rendah diri karena menjadi manusia yang tidak produktif untuk membiayai dirinya maupun keluarganya (anak & istri-bagi yang sudah berkeluarga).
Sementara penganggur perempuan, tidaklah mempunyai dampak 'sedasyat' penganggur kaum laki-laki.

Pekerja laki-laki, selain dapat membiayai dirinya, pun berkewajiban untuk membiayai anak & istrinya (yang berkeluarga).
Pekerja perempuan, umumnya hanya bersifat membantu dan menambah ekonomi keluarga terutama bagi pekerja yang sudah menikah.

Melihat dampak, akibat serta konsekuensi sosialnya, penganggur laki-laki lebih 'berbahaya' dibanding penganggur perempuan dan pekerja laki-laki lebih 'bermanfaat' dibanding pekerja perempuan.

Dengan tidak 'memenjarakan' makna emansipasi bagi kaum perempuan marilah kita berpikir jernih untuk memberikan kesempatan lebih bagi kaum laki-laki dalam mengisi peluang kerja yang ada.
Bagi seorang anak, tidaklah utuh dan sempurna mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu yang bekerja.
Laki-laki yang bekerja dapat menghidupi (berkewajiban)/menafkahi istri & anaknya, dengan kata lain seorang perempuan yang menganggur akan dibiayai hidupnya oleh seorang laki-laki yang bekerja (suaminya), tidak sebaliknya.

Kalaulah kesadaran ini tumbuh dalam masyarakat kita, dari para pemimpin/pemerintah maupun penyedia lapangan kerja (pengusaha) maka tentunya akan membantu mengurangi atau setidaknya meminimalisir jumlah penganggur serta akibat yang ditimbulkannya.

Terimakasih




Kepingin naik 'Bus Besar'



Akhir tahun lalu anakku Raihan ingin sekali naik bus besar. Padahal seingat saya dia pernah punya keinginan yang sama beberapa tahun lalu, dan itu sudah kesampean.
Saya jadi ingat, ketika sedang ramai2nya orang membicarakan 'busway' dia ikut-ikutan kepingin naik busway walaupun usianya saat itu baru tiga tahunan.
Akhirnya, si bunda harus rela menyempatkan diri untuk pergi jalan-jalan keliling kota dengan busway, sayangnya hari itu hari kerja jadi saya gak bisa ikutan (mao coba juga), kebeneran juga bundanya mau kirim paket di wilayah stasiun Kota untuk keluarganya di Makassar, ya jadi sekalian aja...
Hampir sepanjang hari Raihan merengek terus mau naik bus besar, bukan busway atau bus kota tapi bus antar propinsi, maksudnya. Ketika saya tanya kenapa, dia cuma jawab kepingin aja, katanya.

Nasib baik sedang berpihak pada Raihan saat itu. Bunda dan temen-temennya berencana jalan-jalan ke Bandung, sayangnya gak pake bus tapi pake mobil minibus pribadi. Mendengar hal itu kemudian Raihan tidak mau ikut. Dia mau ikut kalau perginya naik bus.
Beberapa saat, rencana hampir gagal sebab bus mini yang akan digunakan ternyata tidak bisa di pake karena harus di service. Mereka harus 'ngebus' kalo gak ingin rencananya dibatalin.
Rupanya niat perginya sudah mantap jadi mereka mau gak mau harus berangkat walaupun 'ngebus'. Maka ini menjadi khabar yang menyenangkan buat Raihan.

Raihan (tengah) bersama temen2

Sampai di Bandung mereka keliling kota Bandung bahkan sempet mandi air hangat di Ciater.
'waduh senengnya mereka', kata bundanya cerita kepada saya. Terutama Nawra, walaupun belum bisa ngomong tapi terlihat dari ekspresinya.Sepulangnya juga Raihan cerita panjang lebar mengenai perjalanannya, jalan-jalan keliling kota Bandung dan yang paling berkesan ketika ia bercerita 'bus besar' yang ia tumpangi tentunya.
'O ya Yah, nanti kalau pulang ke kampung bunda (Makassar, red) harus naik pesawat khan...? begitu ia mengakhiri ceritanya.
@#$@#??!!2%%^%& @#

"Pembenahan"

Dalam rangka memperbaiki tampilan & kwalitas blog ini, kami minta maaf bagi para pengunjung atas ketidaknyamanannya.
Semoga ke depan bisa lebih baik lagi, baik tampilan maupun is dan materi blog ini.

Mohon maaf & terimakasih atas kunjungan anda....

Yah, temani aku tidur......... (2) *end*

Inilah cerita yang sempat meninabobokan anak saya;


Kisah

GACIL = si “Gajah Kecil”


Di sebuah hutan yang lebat disiang hari, nampak seekor anak gajah sedang asyik bermain sendirian.

Gajah Kecil atau ‘Si Gacil’ begitu ia biasa di panggil, kali ini benar-benar sendiri. Biasanya ia bermain bersama teman-temannya, ‘harcil’ atau harimau kecil, ‘kucil’ atau kuda kecil, dan si embe anak kambing, mereka adalah anak-anak yang lucu. Mereka tidak muncul siang ini, ‘kenapa yah….?’ guman si Gajil merasa kesepian.

‘O, ya…aku aku tahu…mereka pasti sudah tertidur pulas….karena ini memang waktunya tidur siang…’ lanjutnya.

Siang ini ia harus melewatinya sendirian, ia terus bermain meski semua teman-temannya sedang asyik tidur dirumahnya masing-masing, sementara si Gajil terus menyelusuri rimbunan pohon-pohon kecil. Ia terlihat begitu gembira.

Suatu ketika didalam hutan yang lebat tersebut nampak 2 orang pemburu liar mengendap-endap mencari buruan. Dengan menenteng senjata laras panjang keduanya berjalan perlahan mengamati buruannya. Dibawah rerimbunan pohon pakis liar, kedua pemburu itu terus mengamati dahan-dahan yang bergerak.

Ssssst…… diam, jangan bersuara….lihat dibawah sana…..!? bisik salah satu pemburu itu.kepada temannya.

‘iya…aku lihat…aku lihat……” jawabnya sambil terus membidikan senjata. Keduanya terus mengamati.

‘jangan tembak… jangan tembak…….!’

Teriakan itu membuat kaget kedua pemburu liar tersebut.

‘ini aku….si Gacil…..aku hanya anak-anak……jangan tembak…!” teriak si Gacil ketakutan. Ia tahu kalau pemburu itu membidikkan senjata kearahnya.

“diam kamu…! jangan bergerak…!” , bentak pemburu liar, seraya menghampiri si Gacil yang menggigil ketakutan. Kedua pemburu kemudian mengambil seutas tali dari dalam tasnya dan segera mengikat Gacil yang sudah tidak berdaya.

Dengan cepatnya pemburu itu menyeret Gacil ke dalam sebuah mobil bak terbuka untuk segera diangkut ke suatu tempat.

“Wusss…..” mobil itu melaju kencang membawa Gacil yang terikat pergi keluar hutan entah kemana ia dibawa.

Ditengah perjalanan, mobil pembawa Gacil berpapasan dengan seekor burung Pipit yang pulang sehabis mencari makan. “Toloong, toloong….!” Gacil terus berteriak sambil menangis sepanjang jalan.

Teriakan itu tak sia-sia rupanya, karena si burung Pipit mendengar dan mengenali kalau suara tersebut adalah suara Gacil, lantas ia berbalik arah dan mengikuti kemana sumber suara tadi.

“O, ya itu dia……hey….gaciil…..gaciil…..!” teriak si Pipit. “kenapa kamu….?! sambungnya. Si Pipit terus bertanya sambil mengikuti mobil yang bergerak kencang.

“aku diculik….aku diculik…!” sahut si Gacil dari atas mobil

“tolong beritahu orang tuaku….dan kawan-kawan di hutan…!”

“baik Gacil…, kamu tenang aja….saya akan panggil teman-teman di hutan…! kata si Pipit sambil cepat melesat pergi meninggalkan si Gacil dan pergi ke hutan.

Ucapan si Pipit sangat menenangkan si Gacil yang dari tadi terus berteriak ketakutan sekarang ia terdiam menunggu teman-temannya menolong.

Sesampai di hutan si Pipit langsung menemui Singa si Raja Hutan,

“Tu..tuanku….tad…tadi……!”

“kenapa kamu….…?, tenang….tenang saja dulu…” sahut sang Raja dengan suara parau penuh wibawa.

Kemudian ia menyuruh si Pipit untuk minum terlebih dahulu sebelum ia bicara.

“sudah tenang..?” tanya sang Raja.

“sudah, sudah…tuanku” sahut si Pipit

“Nah sekarang kamu ceritakan apa yang terjadi…”

Dengan menggebu-gebu si Pipit bercerita perihal penculikan Gacil yang ia saksikan tadi. Si Raja mengerti apa yang disampaikan, lantas ia langsung memerintahkan si Pipit untuk segera memberitahukan orang tua si Gacil.

“saya juga minta seluruh penghuni hutan untuk berkumpul jam 7 pagi besok di lapangan…!” perintah sang Raja.

Setelah si Pipit memberitahukan orang tua si Gacil, kemudian satu persatu ia datangi dan memberitahu keseluruh penghuni hutan seperti, Badak, Kuda, Monyet, Jerapah dan lain-lainnya agar berkumpul di lapangan pada pukul 7 pagi sesuai perintah sang Raja.

Tepat pukul 7 pagi, hampir seluruh penghuni hutan semua berkumpul. Sebagian dari mereka bertanya-tanya, ada apa sehingga mereka harus berkumpul pagi-pagi begini.

“Saudaraku semua…! “ suara itu terdengar penuh wibawa, membuat seluruh yang hadir terdiam mendengarkan.

“hari ini kita berkumpul…untuk menolong si Gacil yang sedang di culik oleh pemburu….”

“kita harus menyerang tempat persembunyiannya…!” sambung Sang Raja.

“ Siaap….!” sambut semua hadirin serentak penuh semangat.

Setelah memberikan beberapa wejangan, sang Raja memberi aba-aba komando untuk penyerangan. Spontan saja mendapat reaksi dari sebagian penghuni hutan yang hadir saat itu untuk melaksanakan perintah sang Raja dengan membentuk barisan yang rapih.

“Maju!” perintah terdengar, diiringi dengan suara gemuruh sekelompok hewan bergerak menuju tempat persembunyian para pemburu liar. Gajah, badak, kuda, jerapah dan hewan besar lainnya berada dalam barisan kedua, sementara monyet, kijang, domba hutan, rusa dan lainnya berada dalam barisan pertama dan yang terdepan adalah sang komando yaitu Singa sang raja. Tak luput barisan burung-burung, setia mengawasi pasukan tersebut tepat diatas sekawan hewan dibawahnya, ada rajawali, garuda, elang, betet, pipit beserta yang lainnya.

Sampailah mereka, pasukan yang dipimpin Singa di tempat persembunyian pemburu liar.

“Tahan!” kata sang raja. Serentak barisan yang sedang berjalan, berhenti menunggu perintah berikutnya.

Terihat si Gacil berada dalam kerangkeng menangis dan berteriak minta tolong. “Tolong…tolong….lepaskan aku teman-teman..!” teriaknya.

Lalu terdengar “seraaang…!” . Suara itu terlepas dari mulut sang raja, kemudian pasukannya menyerang pondok yang berada disisi kerangkeng tempat dimana Gacil ditahan. Sementara sebagian lagi merusak kerangkeng untuk melepaskan si Gacil, terutama orang tua Gacil membongkarnya dengan semangat karena ingin cepat-cepat anaknya itu bebas.

Melihat situasi yang sudah kacau balau, kedua pemburu liar keluar dari pondoknya dan lari tungganglanggang & sekencang-kencangnya meninggal pondok tersebut untuk menyelamatkan diri, lari…entah kemana.


Badak, jerapah, kuda , gajah dan hewan besar lainnya punya andil besar dalam merobohkan pondok itu. Mereka masing-masing menggunakan semua kekuatannya.

Dalam waktu yang singkat si Gacil sudah berada dalam pelukan ibunya, dan pondok itupun luluhlantak oleh serangan hewan-hewan tadi.

“sudah-sudah….semua kembali ke barisannya masing-masing!” perintah sang raja.

Setelah barisan terbentuk rapih, sang raja berkata:

“terimakasih, atas bantuan saudara-saudaku semua…….”

“tugas kita sudah selesai untuk membebaskan si Gacil……dan menghancurkan pondok pemburu liar itu!”sambungnya.

“juga pada kesempatan ini, saya pesan kepada anak-anak…… jika waktunya tidur siang…. jangan lagi ada yang bermain, apalagi bermain sendiri….kalian harus tidur…harus mentaati perintah orang tua….” tegas sang raja

“kita harus belajar banyak dari peristiwa ini……!” sambungnya lagi, yang diamini oleh semua.

Setelah itu raja memerintahkan pasukannya kembali kedalam hutan. Saat itu pula hewan-hewan itu kembali ke hutan untuk melakukan tugasnya masing-masing.

Dengan demikian berakhirlah kisah si Gacil ini.
DbClix