NOKTAH AKSI KEPEDULIAN

11:04 PM Diposkan oleh Arul

Setiapkali negeri ini dilanda bencana, baik itu kebakaran, banjir, gempa bumi, dan lain sebagainya maka bersamaan dengan itupula spontanitas kepedulian masyarakat tumbuh untuk segera turut serta membantu mereka yang sedang dirundung musibah. Stasiun-stasiun TV, radio dan beberapa lembaga, membuka rekening ‘kepedulian’ dalam rangka menghimpun dana bantuan yang dibutuhkan di daerah bencana.

Tak kecuali beberapa mahasiswa yang dengan bangga menggunakan jaket almamaternya nampak terlihat dibeberapa perempatan lampu merah ibukota, membawa kotak-kotak kardus yang ditulisi ‘sumbangan bencana’, mengharap sumbangsih pengguna jalan raya.
Tentunya ini sikap spontanitas & kepedulian yang perlu kita acungi jempol, namun cukup disayangkan mengapa kaum terdidik ini tidak menempuh cara-cara yang lebih elegan & terhormat. Dengan alasan membantu untuk bencana, lalu kita bersama-sama ‘memaklumi’ aktifitas tersebut meskipun melanggar ketertiban di jalan raya.

Disisi lain penjual asongan harus ‘berkucing-kucingan ria’ diperempatan lampu merah dengan para petugas Kamtib. Ini terjadi hampir setiap hari karena untuk urusan perut, mereka tidak mungkin menunda walaupun hanya untuk satu hari.

Bagi kaum pengasong, perempatan jalan atau lampu merah menjadi area yang cukup potensial karena pengguna jalan adalah ‘calon’ penghasil kocek mereka. Mereka yang bermobil ataupun berkendaraan lain adalah kaum ‘berduit’ yang menjadi sasaran mudah untuk mendulang rupiah.

Lalu apakah inipula yang ‘menginspirasi & mengilhami’ kaum mahasiswa tadi?

Dengan pendidikan yang lebih baik dari para pengasong, seharusnya para mahasiswa bisa mempunyai cara-cara yang lebih baik dalam membantu mereka yang sedang dlanda bencana. Sikap kepedulian yang tinggi ini harus terus didukung tanpa harus ‘menabrak’ ketertiban & peraturan yang ada.

7,6 Skala Righter Itu Telah Merenggut 2 Anak & Istriku

9:20 PM Diposkan oleh Arul

Tepat pukul 17.16 WIB, aku merasakan goncangan begitu dasyat di kantorku. Meja kerja, komputer, lampu-lampu serta semua yang ada diruang kerjaku tiba-tiba saja menjadi berantakan. Getarannya begitu besar sehingga meruntuhkan plafon-flafon, lampu-lampu, serta menjatuhkan meja & lemari kerja diruangan itu. Lalu sekonyong-konyong aku lari tunggang langgang menyelamatkan diri keluar dari kantor. Beberapa teman kerjaku juga melakukan hal yang sama. Tetapi ternyata tidak semua bisa berhasil keluar, bunyi gemuruh sangat besar telah menghentikan teriakan & langkah mereka. Aku diam terpaku, ‘Allahu akbar’ jeritku dalam hati.

Gedung tempat aku bekerja sehari-hari kini rata dengan tanah. Bukan cuma itu, didalamnya masih tersisa beberapa teman kerjaku. Entah bagaimana nasib mereka kini. Asap debu yang mengepul membuat mataku begitu perih dan nafasku menjadi sesak. Lagi-lagi aku tak dapat berkata-kata, aku hanya bisa beristighfar dalam hati, ‘astagfirullah hal adzim..…’ berkali-kali tanpa henti.

Kali ini aku benar-benar menangis, air mataku tak terasa begitu deras seperti baru tersadar, teman-temanku yang masih tertinggal didalam gedung itu pasti sudah remuk. Tak ada sela atau ruang yang memungkinkan mereka yang tertinggal didalam sana bisa bertahan apalagi selamat. Gedung ini benar-benar rata dengan tanah.

‘Ya Allah…’ tiba-tiba seperti baru tersadar kembali aku teringat anak-anak dan istriku di rumah. Kemudian aku mengambil motorku yang sudah terguling di parkiran depan kantorku untuk segera pulang. Segera aku mengambil kunci yang biasa aku simpan disaku celanaku. Lalu terus bergegas pulang ke rumah tanpa memperdulikan teriakan & tangisan disekelilingku.

Disepanjang jalan wajah anak-anak & istriku terus membayangi, ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah. Tangisan anak-anak & ibu-ibu di pinggir-pinggir jalan terus mengiringi disetiap deru motorku dan semakin mengingatkan aku pada anak-anak & istriku. Bunyi klakson dari kendaraan yang hiruk-pikuk juga semakin membuat semuanya menjadi panik.

Setengah jam diperjalanan, tinggal beberapa meter lagi untuk sampai ke rumahku. Tak ada goncangan lagi. Jelas terlihat beberapa rumah tetanggaku juga telah runtuh. Mereka semua berada di tepi jalan sambil bertakbir & menangis. Beberapa dari mereka memegangi kepalanya yang berdarah, bahkan seorang ibu teriak-teriak histeris menangisi anaknya yang terbujur kaku dihadapannya.

Tinggal sepuluh meter lagi. Tiba-tiba tetangga sebelahku memanggilku, “Pak…, pak…” sambil berlari, dia terus memelukku erat. Matanya berkaca-kaca. “sabar pak….sabar pak…..” teriaknya. Aku melempar motorku yang masih menyala, lantas dengan gemetar aku berlari menuju rumahku.

‘Masya allah….’ teriakku kecil.

“dimana anak-anak dan istriku…?!”

“sabar pak….sabar pak….” lagi-lagi kalimat itu yang terdengar.

Aku semakin lemas, gemetarku semakin menjadi. Semakin sulit untuk melangkah, aku setengah terduduk lemas tanpa daya kugunakan dengkulku sebagai penopangnya lalu memandangi rumahku yang porak-poranda.

Perlahan sambil menggandengku, Pak Ahmad tetanggaku itu membawa aku memasuki rumahku yang sudah tak berbentuk.

“Ya Allah……!” aku melihat anak pertamaku terbujur kaku di depan TV disela bongkahan tembok rumahku yang ambruk. Darah dari kepalanya masih mengalir segar terlihat. Pak Ahmad lagi-lagi memelukku erat, “sabar pak…sabar pak…”bisiknya lagi. Mataku tiba-tiba menjadi gelap, aku coba untuk terus melangkah lalu kehilangan kata-kata.

Pak Ahmad menuntunku ke ruang kamar, masih memegangku sekuat-kuatnya. Kemudian mengajakku berjongkok mengintip dari sela reruntuhan tembok kamarku yang roboh.

“astaghfirullah hal adzim…..” kini aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, istri & anakku yang paling kecil berpelukan kaku tanpa nyawa.

“inna lillahi wa inna ilaihi rojiun….” ucap Pak Ahmad

“inna lillahi wa inna ilaihi rojiun….” bisikku gemetar mengikutinya

Aku tak mampu lagi untuk bangun tapi Pak Ahmad menganggakatku kuat, lalu menggandengku lagi menjauh keluar rumah menuju tepi jalan. Sambil memintaku bersabar dan selanjutnya menunggu tim evakuasi yang segera akan datang. Samar-samar masih terdengar olehku hiruk-pikuk dan suara tangisan-tangisan disekelilingku. Namun, semakin lama semakin tak terdengar.

Aku hanya merenungi diriku yang baru saja di tinggal orang-orang yang aku sayangi.

Tersimpan sebuah penyesalan jika teringat kejadian tadi pagi. Aku telah memarahi istriku dengan keras hanya karena terlambat menyiapkan sarapan pagiku. Mestinya itu tak kulakukan, seharusnya aku menyadari bahwa dia begitu lelah setelah semalaman tidak pulas tidurnya sebab menemani si kecil yang panas badannya. Setiap hari ia begitu capek & lelah karena harus mengurus anak-anakku, mencuci pakaian, memasak dan semua hal yang ia kerjakan untuk aku dan anakku.

Dua hari yang lalu juga aku telah memarahi anakku yang pertama. Ia baru saja masuk sekolah dasar, tapi belakangan ia menjadi rewel. Dia hanya minta dibelikan sebuah mainan ‘tamia’ seperti punya Irwan teman sekelasnya. Kalau saja aku berhenti merokok hanya dalam waktu dua hari saja pasti mainan itu sudah terbeli, dan dia anakku itu tidak perlu merengek-rengek terus sepanjang hari.

Juga, sudah beberapa kali aku menunda-nunda janjiku untuk sekadar mengajak anak-anak & istriku bertamasya ke sebuah taman wisata dalam kota. Kalau saja itu terjadi, tentunya mereka begitu senang dan gembira. Setidaknya bagi istriku, tentu hal itu dapat menghilangkan kepenatannya yang setiap hari harus mengurus anak-anak & rumah. Anak-anakku, pasti berlari-lari senang bermain disebuah taman yang teduh. Kemudian kami bersama-sama menikmati makanan yang kami bawa.

Tapi, penyesalanku kini semua sudah tidak ada artinya, mereka sudah tiada, pergi meninggalkanku. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa menangis dan berdo’a.

“Ya, Allah…..ampuni aku, maafkan atas kesewenang-wenanganku terhadap mereka…….atas semua penghilangan hak mereka…… dan atas segala kesalahan-kesalahanku…..kepada mereka…..”


“Yah….ayah…..! bangun….!”, suara itu mengagetkan aku. Itu suara istriku. Aku tersadar. O, ya itu benar-benar suara istriku

“mimpi apa sih…kok nangis-nangis segala…?” sambungnya.

Aku langsung memeluknya seraya aku meminta maaf atas kejadian tadi pagi.

“astagfirullah hal adziim…, aku mimpi…” teriakku pelan

Aku melihat jam dinding masih tetap berada di tembok yang masih kokoh berdiri dalam ruangan, menunjukkan pukul 2 lewat 35 menit. TV masih menyala terus menyiarkan Breaking News tentang kejadian gempa sore tadi di kota Padang, Sumatera Barat. Malam ini mereka tidak tidur, ketakutan & trauma masih menyelimutinya, beberapa dari mereka masih berjuang menyelamatkan diri ditengah-tengah hujan mencari keluarganya yang hilang. Sementara disini, di Jakarta orang-orang tertidur lelap, akupun demikian hanya bisa menyaksikan penderitaan saudara-saudaraku disana melalui berita di TV.

Korban sudah mencapai ratusan orang sementara ratusan lainnya masih belum diketemukan.

Aku menengok anakku yang tertidur pulas tepat disampingku. Dengkurannya yang halus semakin terdengar. ‘Besok akan aku belikan mainan itu untukmu ya nak…?’ bisikku dalam hati sambil kucium keningnya.

“si kecil dimana…?” tanyaku dengan suara sedikit parau kepada istriku yang sedari tadi tersenyum-senyum melihat tingkahku.

“di kamar, sedang tidur pulas dan panas badannya sudah menurun…” jawabnya. Lalu aku beranjak ke kamar untuk meyakinku kalau dia memang benar-benar pulas, ia terlihat begitu lelap, kemudian tak lupa pula aku cium keningnya.

“Tidur lagi Yah…..besokkan kerja…? Jangan lupa matikan TV-nya ya…?” sambil berkata kepadaku, istriku melanjutkan tidurnya disamping anakku yang paling kecil.

Aku beranjak ke ruang depan sambil meneruskan melihat breaking news tadi, selang beberapa saat mataku terasa berat sebab rasa kantuk telah menyerangku lagi. Aku matikan TV lantas tidur lagi.

Award untuk Anda

1:03 PM Diposkan oleh Arul

Award ini sudah lama diberikan kepada saya.
Terimakasih kepada blog Coretan Dinding Kamar, maaf yach.... baru ngerjain tugasnya.

Sebagai konsekuensinya saya harus meneruskan lagi membagikan award ini kebeberapa blogger, yaitu;
1. blog Fanda
2. blog Fitri
3. blog 1000jalan
4. blog Iqbal Sandira
5. blog Ajeng
6. blog Kun, Sang Waktu
7. blog Orang Tua Super

received this award from David Funk, who is one of the kindest and enthusiastic blogger I've met on-line.
He is also a good friend of mine. I recommend checking his site out if you haven't yet, and he will gladly return the favor.
Thanks again David for the passing on this award and I really do appreciate it.

Uber (synonym to Super) Amazing Blog Award is a blog award given to sites who:

* inspires you
* makes you smile and laugh
* or maybe gives amazing information
* a great read
* has an amazing design
* and any other reasons you can think of that makes them
* uber amazing

The rules of this award are:

* Copy the badge and put the logo on your blog sidebar or post.
* Nominate at least 5 blogs (can be more) that for you are Uber Amazing!
* Let them know that they have received this Uber Amazing award by commenting on their blog.
* Share the love and link to this this post and to the person you received your award from.
* Come back and comment here so that your link could be added to the master list of awardees.


Selamat yach....and jangan lupa tugas berikutnya....