Logika sederhana, Atasi Pengangguran

Wednesday, February 25, 2009 Diposkan oleh Arul

Krisis ekonomi global menyebabkan target penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan terhambat. Tingkat kemiskinan semula ditargetkan 11,5% di awal 2010, diperkirakan meningkat menjadi 13,5%. Jika semula pemerintah menargetkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,4% dari jumlah angkatan kerja, maka dengan adanya krisis target tersebut berubah. "Tapi karena terjadi krisis, tingkat pengangguran terbuka naik menjadi 8,3 sampai 8,9%," ujar Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2009).

Begitu isi berita yang saya baca di sebuah media massa, sungguh suatu khabar yang menyedihkan dan memiris hati kita.
Lalu apa yang bisa kita buat untuk melawan arus krisis yang sudah menglobal dengan segala dampak yang diakibatkannya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab tentunya.

Disisi lain saya membaca perihal peningkatan partisipasi pekerja perempuan dihampir semua lini, entah ini mungkin gambaran tingkat keberhasilan kaum perempuan 'memaknai' kata emansipasi ataukah lapangan kerja sudah tidak 'mempercayai' kaum laki-laki.
Secara kasat mata atmosfir ini jelas terlihat, kaum pekerja perempuan mulai mendominasi lapangan kerja terutama pada sektor-sektor industri (dengan tingkat pendidikan tertentu).
Fenomena ini memberikan kontribusi meningkatnya pengangguran dari kaum laki-laki karena 'jatahnya' diambil kaum perempuan.

Tak soal, pengangguran laki-laki dan perempuan jika mempunyai konsekuensi yang sama, tetapi kenyataannya jelas berbeda akibat dan dampak yang ditimbulkan bagi penganggur kaum laki-laki dan penganggur perempuan. Begitu juga sebaliknya untuk pekerja laki-laki dan pekerja perempuan.

Penganggur laki-laki, lebih mempunyai tekanan psikologis yang lebih besar (dari lingkungan & budaya) yang mengakibatkan rendah diri karena menjadi manusia yang tidak produktif untuk membiayai dirinya maupun keluarganya (anak & istri-bagi yang sudah berkeluarga).
Sementara penganggur perempuan, tidaklah mempunyai dampak 'sedasyat' penganggur kaum laki-laki.

Pekerja laki-laki, selain dapat membiayai dirinya, pun berkewajiban untuk membiayai anak & istrinya (yang berkeluarga).
Pekerja perempuan, umumnya hanya bersifat membantu dan menambah ekonomi keluarga terutama bagi pekerja yang sudah menikah.

Melihat dampak, akibat serta konsekuensi sosialnya, penganggur laki-laki lebih 'berbahaya' dibanding penganggur perempuan dan pekerja laki-laki lebih 'bermanfaat' dibanding pekerja perempuan.

Dengan tidak 'memenjarakan' makna emansipasi bagi kaum perempuan marilah kita berpikir jernih untuk memberikan kesempatan lebih bagi kaum laki-laki dalam mengisi peluang kerja yang ada.
Bagi seorang anak, tidaklah utuh dan sempurna mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu yang bekerja.
Laki-laki yang bekerja dapat menghidupi (berkewajiban)/menafkahi istri & anaknya, dengan kata lain seorang perempuan yang menganggur akan dibiayai hidupnya oleh seorang laki-laki yang bekerja (suaminya), tidak sebaliknya.

Kalaulah kesadaran ini tumbuh dalam masyarakat kita, dari para pemimpin/pemerintah maupun penyedia lapangan kerja (pengusaha) maka tentunya akan membantu mengurangi atau setidaknya meminimalisir jumlah penganggur serta akibat yang ditimbulkannya.

Terimakasih




9 komentar:

  1. arul said...
    This comment has been removed by a blog administrator.
  2. abhan said...

    cakep dach

  3. ajeng said...

    Setuju...Tapi saya sudah terlanjur bekerja tuh, apa harus keluar? Salam...

  4. angin-berbisik said...

    nice post...jadi lebih berfikir lagi untuk membuka lapangan pekerjaan nih

  5. arul said...

    terimakasih untuk respons-nya:

    @ajeng : pertanyaannya susah saya jawab.
    Saya tidak bisa menafikkan banyak perempuan yg bekerja u/ menghidupi kehidupannya, walaupun umumnya 'hanya cari kesibukkan'.
    @angin berbisik : yups... saya setuju sekali kali.....

  6. kartika dewi tresnaningrum said...

    nice article *two thumbs up* saatnya kembali ke fitrah masing2, insyaAllah masalah akan berangsur-angsur teratasi, imo ;)

    btw, salam kenal dan makasih udah berkunjung ^-^

  7. zhind said...

    benar sekali kata mbak KARTIKA DEWI (atas saya) semua harus kembali kefitrah nya,agar masalah nya dapat di atasi......mksh

  8. arul said...

    @kartika dewi & @ zhind : thks u/ comment-nya....

  9. abhan said...

    Kang.. di tunggu postingannya lagi
    mana donk cerita2 Raihan sama Naura nya...!!!

    sukses yach