7,6 Skala Righter Itu Telah Merenggut 2 Anak & Istriku

Monday, October 05, 2009 Diposkan oleh Arul

Tepat pukul 17.16 WIB, aku merasakan goncangan begitu dasyat di kantorku. Meja kerja, komputer, lampu-lampu serta semua yang ada diruang kerjaku tiba-tiba saja menjadi berantakan. Getarannya begitu besar sehingga meruntuhkan plafon-flafon, lampu-lampu, serta menjatuhkan meja & lemari kerja diruangan itu. Lalu sekonyong-konyong aku lari tunggang langgang menyelamatkan diri keluar dari kantor. Beberapa teman kerjaku juga melakukan hal yang sama. Tetapi ternyata tidak semua bisa berhasil keluar, bunyi gemuruh sangat besar telah menghentikan teriakan & langkah mereka. Aku diam terpaku, ‘Allahu akbar’ jeritku dalam hati.

Gedung tempat aku bekerja sehari-hari kini rata dengan tanah. Bukan cuma itu, didalamnya masih tersisa beberapa teman kerjaku. Entah bagaimana nasib mereka kini. Asap debu yang mengepul membuat mataku begitu perih dan nafasku menjadi sesak. Lagi-lagi aku tak dapat berkata-kata, aku hanya bisa beristighfar dalam hati, ‘astagfirullah hal adzim..…’ berkali-kali tanpa henti.

Kali ini aku benar-benar menangis, air mataku tak terasa begitu deras seperti baru tersadar, teman-temanku yang masih tertinggal didalam gedung itu pasti sudah remuk. Tak ada sela atau ruang yang memungkinkan mereka yang tertinggal didalam sana bisa bertahan apalagi selamat. Gedung ini benar-benar rata dengan tanah.

‘Ya Allah…’ tiba-tiba seperti baru tersadar kembali aku teringat anak-anak dan istriku di rumah. Kemudian aku mengambil motorku yang sudah terguling di parkiran depan kantorku untuk segera pulang. Segera aku mengambil kunci yang biasa aku simpan disaku celanaku. Lalu terus bergegas pulang ke rumah tanpa memperdulikan teriakan & tangisan disekelilingku.

Disepanjang jalan wajah anak-anak & istriku terus membayangi, ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah. Tangisan anak-anak & ibu-ibu di pinggir-pinggir jalan terus mengiringi disetiap deru motorku dan semakin mengingatkan aku pada anak-anak & istriku. Bunyi klakson dari kendaraan yang hiruk-pikuk juga semakin membuat semuanya menjadi panik.

Setengah jam diperjalanan, tinggal beberapa meter lagi untuk sampai ke rumahku. Tak ada goncangan lagi. Jelas terlihat beberapa rumah tetanggaku juga telah runtuh. Mereka semua berada di tepi jalan sambil bertakbir & menangis. Beberapa dari mereka memegangi kepalanya yang berdarah, bahkan seorang ibu teriak-teriak histeris menangisi anaknya yang terbujur kaku dihadapannya.

Tinggal sepuluh meter lagi. Tiba-tiba tetangga sebelahku memanggilku, “Pak…, pak…” sambil berlari, dia terus memelukku erat. Matanya berkaca-kaca. “sabar pak….sabar pak…..” teriaknya. Aku melempar motorku yang masih menyala, lantas dengan gemetar aku berlari menuju rumahku.

‘Masya allah….’ teriakku kecil.

“dimana anak-anak dan istriku…?!”

“sabar pak….sabar pak….” lagi-lagi kalimat itu yang terdengar.

Aku semakin lemas, gemetarku semakin menjadi. Semakin sulit untuk melangkah, aku setengah terduduk lemas tanpa daya kugunakan dengkulku sebagai penopangnya lalu memandangi rumahku yang porak-poranda.

Perlahan sambil menggandengku, Pak Ahmad tetanggaku itu membawa aku memasuki rumahku yang sudah tak berbentuk.

“Ya Allah……!” aku melihat anak pertamaku terbujur kaku di depan TV disela bongkahan tembok rumahku yang ambruk. Darah dari kepalanya masih mengalir segar terlihat. Pak Ahmad lagi-lagi memelukku erat, “sabar pak…sabar pak…”bisiknya lagi. Mataku tiba-tiba menjadi gelap, aku coba untuk terus melangkah lalu kehilangan kata-kata.

Pak Ahmad menuntunku ke ruang kamar, masih memegangku sekuat-kuatnya. Kemudian mengajakku berjongkok mengintip dari sela reruntuhan tembok kamarku yang roboh.

“astaghfirullah hal adzim…..” kini aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, istri & anakku yang paling kecil berpelukan kaku tanpa nyawa.

“inna lillahi wa inna ilaihi rojiun….” ucap Pak Ahmad

“inna lillahi wa inna ilaihi rojiun….” bisikku gemetar mengikutinya

Aku tak mampu lagi untuk bangun tapi Pak Ahmad menganggakatku kuat, lalu menggandengku lagi menjauh keluar rumah menuju tepi jalan. Sambil memintaku bersabar dan selanjutnya menunggu tim evakuasi yang segera akan datang. Samar-samar masih terdengar olehku hiruk-pikuk dan suara tangisan-tangisan disekelilingku. Namun, semakin lama semakin tak terdengar.

Aku hanya merenungi diriku yang baru saja di tinggal orang-orang yang aku sayangi.

Tersimpan sebuah penyesalan jika teringat kejadian tadi pagi. Aku telah memarahi istriku dengan keras hanya karena terlambat menyiapkan sarapan pagiku. Mestinya itu tak kulakukan, seharusnya aku menyadari bahwa dia begitu lelah setelah semalaman tidak pulas tidurnya sebab menemani si kecil yang panas badannya. Setiap hari ia begitu capek & lelah karena harus mengurus anak-anakku, mencuci pakaian, memasak dan semua hal yang ia kerjakan untuk aku dan anakku.

Dua hari yang lalu juga aku telah memarahi anakku yang pertama. Ia baru saja masuk sekolah dasar, tapi belakangan ia menjadi rewel. Dia hanya minta dibelikan sebuah mainan ‘tamia’ seperti punya Irwan teman sekelasnya. Kalau saja aku berhenti merokok hanya dalam waktu dua hari saja pasti mainan itu sudah terbeli, dan dia anakku itu tidak perlu merengek-rengek terus sepanjang hari.

Juga, sudah beberapa kali aku menunda-nunda janjiku untuk sekadar mengajak anak-anak & istriku bertamasya ke sebuah taman wisata dalam kota. Kalau saja itu terjadi, tentunya mereka begitu senang dan gembira. Setidaknya bagi istriku, tentu hal itu dapat menghilangkan kepenatannya yang setiap hari harus mengurus anak-anak & rumah. Anak-anakku, pasti berlari-lari senang bermain disebuah taman yang teduh. Kemudian kami bersama-sama menikmati makanan yang kami bawa.

Tapi, penyesalanku kini semua sudah tidak ada artinya, mereka sudah tiada, pergi meninggalkanku. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa menangis dan berdo’a.

“Ya, Allah…..ampuni aku, maafkan atas kesewenang-wenanganku terhadap mereka…….atas semua penghilangan hak mereka…… dan atas segala kesalahan-kesalahanku…..kepada mereka…..”


“Yah….ayah…..! bangun….!”, suara itu mengagetkan aku. Itu suara istriku. Aku tersadar. O, ya itu benar-benar suara istriku

“mimpi apa sih…kok nangis-nangis segala…?” sambungnya.

Aku langsung memeluknya seraya aku meminta maaf atas kejadian tadi pagi.

“astagfirullah hal adziim…, aku mimpi…” teriakku pelan

Aku melihat jam dinding masih tetap berada di tembok yang masih kokoh berdiri dalam ruangan, menunjukkan pukul 2 lewat 35 menit. TV masih menyala terus menyiarkan Breaking News tentang kejadian gempa sore tadi di kota Padang, Sumatera Barat. Malam ini mereka tidak tidur, ketakutan & trauma masih menyelimutinya, beberapa dari mereka masih berjuang menyelamatkan diri ditengah-tengah hujan mencari keluarganya yang hilang. Sementara disini, di Jakarta orang-orang tertidur lelap, akupun demikian hanya bisa menyaksikan penderitaan saudara-saudaraku disana melalui berita di TV.

Korban sudah mencapai ratusan orang sementara ratusan lainnya masih belum diketemukan.

Aku menengok anakku yang tertidur pulas tepat disampingku. Dengkurannya yang halus semakin terdengar. ‘Besok akan aku belikan mainan itu untukmu ya nak…?’ bisikku dalam hati sambil kucium keningnya.

“si kecil dimana…?” tanyaku dengan suara sedikit parau kepada istriku yang sedari tadi tersenyum-senyum melihat tingkahku.

“di kamar, sedang tidur pulas dan panas badannya sudah menurun…” jawabnya. Lalu aku beranjak ke kamar untuk meyakinku kalau dia memang benar-benar pulas, ia terlihat begitu lelap, kemudian tak lupa pula aku cium keningnya.

“Tidur lagi Yah…..besokkan kerja…? Jangan lupa matikan TV-nya ya…?” sambil berkata kepadaku, istriku melanjutkan tidurnya disamping anakku yang paling kecil.

Aku beranjak ke ruang depan sambil meneruskan melihat breaking news tadi, selang beberapa saat mataku terasa berat sebab rasa kantuk telah menyerangku lagi. Aku matikan TV lantas tidur lagi.

4 komentar:

  1. pelangi anak said...

    Alkhamdulillah hanya mimpi Pak....
    Semoga mimpi tersebut hanya sekedar 'kisah-kisah' dunia mimpi yang tidak akan menjadi kenyataan, tetapi bisa membuat kita introspeksi diri dan memotivasi untuk semakin mendekat kepada Yang Maha Esa. Seraya terus memohon petujuk dan perlindungannya agar selamat dunia-akhirat.

    Sebagai penghormatan pada para korban gempa di Sumatera Barat, Kami sekeluarga turut berduka dan berbela sungkawa kepada mereka yang telah meninggal dunia dan juga turut berdoa dengan segenap hati agar mereka yang ditinggalkan bisa diberi kebesaran hati dan ketangguhan agar bisa segera bangkit dan membangun kembali kehidupan yang lebih baik, amien!

    Harapan kami kepada pemerintah yang yang berwenang, agar mereka semakin getol menyiapkan program pendidikan masyarakat dan gerakan sadar bencana, sehingga masyarakat semakin get-prepared dan siap siaga bila sewaktu-waktu mereka dihantam bencana yang tak terhindarkan tersebut. Dengan demikian, resiko dan jatuhnya banyak korban jiwa akan bisa diminimalisir.

    Terima kasih dan salam kenal!

  2. LuluQu said...

    Biarpun ini catatan lama, tapi masih tetap menyentuh... Jarang saya bisa mendengar pria menyuarakan isi hatinya, saya sangat mengapresiasi itu...^^,

  3. dessy said...

    ya ampun mas arul............. aku sampe deg2an bacanya. untung cuma mimpi :D

  4. Bond said...

    Kirain beneran Bos,
    gempa di mana ? Mudah2an membuat kita semakin menghargai hidup dan mencintai keluarga...
    semoga sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
    Amin