ANAK PRIHATIN

Monday, January 12, 2009 Diposkan oleh Arul

RAIHAN RINDU MUHAMMAD, lahir di Jakarta 21 Mei 2003. Menjelang kelahirannya membuat kami khawatir selain karena anak pertama, juga karena kondisi bundanya yang beberapa tahun lalu sebelum menikah pernah mempunyai riwayat medis yaitu mengalami ‘penyempitan jantung’ sehingga untuk proses kelahiran anak pertama tersebut kami harus mengantisipasi kejadian yang tidak kami inginkan dengan membawanya ke sebuah Rumah Sakit di kawasan Jakarta Timur.

Tapi, Alhamdulillah kelahiran Raihan Rindu Muhammad berjalan lancar, tanpa ada kendala yang berarti. Ia lahir begitu bersih, tidak seperti umumnya kelahiran seorang bayi yang dibarengi kotoran air ketuban yang masih melekat di sekujur tubuhnya, itu tidak terjadi saat kelahiran anakku Raihan, yang membuat bidan & para perawat setempat begitu terkagum-kagum, lalu salah seorang berteriak “ibu, kok anaknya bersih sekali dikasih apa bu sebelum melahirkan…?”. Lalu sambil tergolek lemas sang Bunda berkata : “iya sus, memasuki usia sembilan bulan kami sering minum kelapa ijo & susu kedelai…”

Mata sang Bunda masih berkaca-kaca antara menahan sisa sakit dan kegembiraan karena proses kelahiran anaknya berjalan dengan lancar.
Kini, Raihan Rindu Muhammad sudah 5 (lima) tahun lebih usianya. Tak terasa, 5 (lima) tahun lalu ia begitu mungil dan tak berdaya, tapi sekarang ia sudah sekolah di sebuah Taman Kanak-Kanak di dekat rumah dan sikapnya begitu kritis dalam menilai sesuatu.
‘…selama masih tetap berpijak pada kebenaran, tetaplah kritis anakku…...’

NAWRA RINDANG AMALIA, lahir di Jakarta, 29 Agustus 2007. Kelahirannya ditengah kegalauan kedua orang tuanya. Saat itu kondisi kami sangat memprihatinkan karena sang ayah dalam keadaan ‘menganggur’ sehingga untuk bayar kontrakan rumah & makan saja kami masih harus berjuang keras apalagi untuk membiayai kelahiran anak kedua kami ini, mungkin sudah tak terpikir lagi darimana kami mendapatkan biaya tersebut. Saat itu kami hanya bisa pasrah.

Kondisi rumah tangga kamipun ikut-ikutan bergejolak karena dihadapkan dengan berbagai masalah yang berpangkal pada ‘serba kekurangan’ saat itu, terutama masalah finansial keluarga kami yang begitu terpuruk. Hal yang bisa kami siasati saat itu adalah mencari tempat melahirkan dengan biaya yang paling murah tanpa dibarengi gambaran darimana biaya akan kami dapatkan, lagi-lagi kami hanya pasrah.

Sampailah saat kelahiran anakku yang kedua ini di Puskesmas Tebet Jakarta, tepat bersamaan dengan gemuruh adzan Shubuh, lahirlah ‘Nawra Rindang Amalia’, Kamis dini hari, 29 Agustus 2007.

Wanita sholehah, begitu harapan kami; kelahirannya dalam gema kebesaran Allah SWT, ditengah keprihatinan kondisi ekonomi kedua orang tuanya, dan diantara kerinduan kami pada sosok wanita sholehah yang ramah, pintar, berkata santun & berbuat sesuatu yang dapat memberikan kenyamanan serta meneduhkan semua orang. Amin.

1 komentar:

  1. Bond said...

    Amin. Semoga Allah SWT mendengar dan mengabulkan doa kedua orang tua.